Mengimbangi dan Memenangi Kebakaran
Update Terakhir : 18 Juni 2009
RENCANA INDUK KEBAKARAN
Mengimbangi kekuatan musuh yaitu api kebakaran untuk kemudian memenangi pertempurannya, secara teknis dewasa ini sudah tidak menjadi sebuah persoalan yang sulit lagi, dalam arti teknologi atau lebih spesifik lagi yaitu pengetahuan tentang proteksi kebakaran (Fire Protection/Fire Engineering) telah menyediakan jawaban tentang bagaimana dan apa yang harus diperbuat untuk mengimbangi dan memenangkan pertempuran melawan api kebakaran.
Manusia, faktor utama risiko.Yang menjadi masalah atau menjadi salah satu faktor risiko kebakaran (fire risk) utama adalah justru manusia itu sendiri (bencana kebakaran hampir seluruhnya disebabkan oleh ulah manusia/man made disaster). Bencana kebakaran, masih banyak yang memandangnya bukan sebagai risiko yang dapat diminimasi, melainkan sebagai musibah. Juga masih kuat anggapan bahwa biaya untuk proteksi terhadap bahaya kebakaran bukan biaya yang tergolong sebagai biaya investasi yang dapat dikembalikan dalam waktu relative cepat, atau sikap menggampangkan bahwa soal bencana kebakaran adalah soal nanti.
Luput dari perhatian publik Turunan dari pandangan dan anggapan tersebut di atas adalah pada pengaruh atau dampak negatifnya dalam bentuk tidak bertumbuhnya bidang proteksi dan mitigasi kebakaran diberbagai segi. Hal tersebut berkonsekuensi kepada semakin longgarnya penerimaan terhadap resiko kebakaran, yang berlangsung tanpa mendapat perhatian dari publik. Segi-segi yang luput dari perhatian publik tersebut antara lain; Penelitian - langkanya penelitian kebakaran dilakukan di Indonesia, sementara penelitian kebakaran yang dilakukan pihak kepolisian dengan laboratorium forensiknya hanya berkepentingan pada aspek pemidanaan/asuransi saja tanpa penyebarluasan hasil penelitian seperti laiknya sebuah penelitian ilmiah, Pendidikan dan Pelatihan - langkanya training center pencegegahan dan penanggulangan kebakaran, belum adanya sekolah kebakaran atau jurusan pengetahuan proteksi kebakaran pada perguruan tinggi, Pendataan - belum adanya lembaga yang khusus menangani statistik kebakaran nasional, Kualitas SDM - belum adanya standar kompetensi bagi mereka yang beraktivitas di bidang proteksi kebakaran, Cost effective- penggunaan anggaran lebih berat untuk memenuhi strategi reaktif pemadaman kebakaran sedangkan kegiatan pencegahan yang agresif melalui edukasi publik, inspeksi bangunan dan penegakan hukum belum dipandang sebagai kegiatan strategis yang perlu didukung oleh anggaran yang memadai, dan lain- lain.
Keterlibatan pemangku kepentingan/stakeholders Dalam konteks proteksi dan mitigasi kebakaran kota, faktor manusia, khususnya pengambil kebijakan, instansi perangkat pelaksana kota terkait , penduduk dan pengelola bangunan, secara negative adalah juga merupakan sebuah faktor risiko yang berhubungan erat dengan kerentanan kota dari bahaya kebakaran. Dapat disimpulkan bahwa kerentanan kebakaran kota akan meningkat apabila kota dan pemangku kepentingannya tidak berbuat banyak untuk hal proteksi dan mitigasi kebakaran.
Perencanaan.
Jika ruang kota ingin dijadikan ruang yang menyejahterakan penduduknya, maka kota dan pemangku kepentingannya tanpa kecuali harus mengupayakan proteksi dan mitigasi atau system ketahanan terhadap risiko bencana kota yang sewaktu-waktu dapat terjadi secara konsisten dan berjangka panjang. Jika bencana tersebut adalah bencana kebakaran, maka rencana untuk menumbuhkan proteksi dan mitigasinya adalah sebuah keniscayaan.
Gambaran kerentanan terhadap kebakaran berikut proteksi dan mitigasinya ke depan diperoleh dengan membuat prediksi atau prakiraan tentang permasalahan kebakaran kelak berdasarkan penyelidikan yang cermat atas permasalahan kebakaran kemarin (masa lalu) dan hari ini (sekarang). Kajian masa lalu dikenal dengan analisis data yang sangat tergantung pada ketersediaan data yang baik.
Evaluasi adalah melihat kondisi yang tengah berlangsung (sekarang) yang mensyaratkan kemampuan menguji situasi secara objektif. Proses memprakirakan kondisi yang akan datang dan mempersiapkan pengimplementasiannya mensyaratkan adanya sebuah proses perencanaan yang harus selalu diikuti/dimonitor. Hasil akhir dari proses perencanaan ini berupa sebuah Rencana (Plan) dan pengimplementasiannya yang akan menjadi tantangan bagi kota untuk dapat memenuhinya.
Mengingat implementasi rencana, maka dalam prosesnya perlu ditetapkan loop umpan balik (feedingback loop), agar dapat ditaksirnya keberlanjutan rencana dalam artian seberapa besar rencana telah berkontribusi kepada suksesnya pencapaian tujuan. Selain itu loop umpan balik merupakan cara untuk menyediakan data hasil kajian yang akan dikembalikan pada rencana sehingga keberlanjutannya dapat terjaga meski terdapat hal yang perlu dirancang ulang (redesign).
Instansi perangkat kota yang menangani proteksi dan mitigasi kebakaran, perlu mengembangkan beberapa rencana yang berkaitan dengan pencegahan dan pemadaman kebakaran. Rencana tersebut harus spesifik, diarahkan oleh tujuan yang dinyatakan dengan jelas, dilaksanakan dalam waktu singkat (satu s/d lima tahun), sepenuhnya direncanakan oleh pihak internal. Contohnya antara lain, rencana program pelatihan, rencana penggantian apparatus, rencana revisi tanggap pertama dll. Perencanaan instansi kebakaran tersebut harus mempertimbangkan perencanaan instansi lain misalnya perencanaan tata-ruang, perencanaan oleh perusahaan air, penegakkan peraturan bangunan dsb.nya.
Perencanaan Induk
Sebuah tipe perencanaan proteksi dan mitigasi kebakaran, dikenal dengan sebutan Perencanaan Komprehensif atau Perencanaan Induk, ditujukan untuk keseluruhan masalah proteksi kebakaran komunitas, baik pencegahan maupun pemadaman kebakaran, secara jelas melibatkan instansi dan organisasi dari banyak komunitas, mungkin dari tingkat kecamatan, kota, kabupaten, propinsi dan pemerintah pusat.
Perencanaan komprehensif adalah sebuah kebutuhan dari komunitas-komunitas untuk mengintegrasikan semua komunitas dalam upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran sekaligus meningkatkan efisiensi dan ke-efektifan biaya atas kegiatan tersebut. Meningkatnya proteksi komunitas terhadap kebakaran adalah tujuan dari perencanaan ini.Derajat keberhasilannya harus diukur dari penjumlahan total biaya kebakaran (total cost of fire), tidak dari hanya sebuah sub-sistem.
Perencanaan komprehensif mempunyai tujuan (goals) yang jelas dinyatakan dan disertai dengan cara-cara yang disepakati dalam pengukuran pencapaiannya. Setiap tujuan terdiri dari beberapa sasaran (objectives). Sebuah taktik kemudian dirancang untuk pencapaian sasaran. Semua sasaran menuju kepada penyelesaian strategi secara keseluruhan. Jika sasaran dan taktik direncanakan dalam garis waktu, maka keseluruhan waktu yang diperlukan bagi sebuah rencana komprehensif akan diketahui, dan jangka waktu pencapaian sasaran tampak jelas.
Proteksi kebakaran, hampir seluruhnya merupakan a local responsibility. Setiap komunitas masing-masing mempunyai kondisi uniknya sendiri, oleh karena itu sebuah system proteksi kebakaran yang berhasil di sebuah komunitas, jangan dipandang akan berhasil juga pada komunitas lainnya. Untuk mencukupinya, system proteksi kebakaran harus menjawab setiap kondisi lokal/setempat, terutama pada perubahan kondisi. Perencanaan adalah kunci, tanpa perencanaan berbasis local, system proteksi kebakaran akan tidak cocok bagi kebutuhan local dan tidak dapat diadaptasikan kepada kebutuhan komunitas yang berubah. Perubahan peta zoning, akan mengubah kebutuhan proteksi kebakaran. Sebuah area pemukiman padat yang diubah menjadi bangunan gedung tinggi apartment, akan mengubah kebutuhan proteksi kebakaran pada area tersebut.
Menurut U.S.Fire Administration (lih; Fire Protection Handbook, edisi 18, NFPA):
- Perencanaan induk adalah sebuah proses partisipatif yang menghasilkan penetapan sebuah sistem pencegahan dan pengendalian kebakaran yang berorientasi pada tujuan, berjangka panjang, komprehensif, menyajikan known cost/loss performance, menyesuaikannya dengan perubahan kebutuhan komunitas secara menerus.
- Perencanaan induk harus mempertimbangkan semua unsur komunitas yang berkaitan dengan unsur-unsur sistem pencegahan dan pengendalian kebakaran.
- Perencanaan induk melibatkan semua pihak yang berkepentingan pada pengembangan sebuah uraian jelas tentang hubungan cost/loss.
- Perencanaan induk membolehkan anda menganalisis pencegahan dan pengendalian kebakaran secara sistemattik melalui prosedur akal-sehat (common sense procedure).
Perencanaan induk mempunyai tiga tahapan: pra-perencanaan , perencanaan, dan implementasi. Tahap pra-perencanaan mendapatkan komitmen-komitmen yang diperlukan, komite-komite, estimasi dan jadual, dan persetujuan untuk lanjut (go-ahead approvals). Tahap perencanaan mengumpulkan dan menganalisis data, membuat tujuan dan sasaran, menentukan sebuah tingkat layanan proteksi kebakaran yang dapat diterima, mengidentifikasikan alternatif-alternatif, dan membangun rencana (plan). Tahap implementasi tidak pernah berakhir, karena rencana terus berjalan (on-going) dan selalu direvisi dan dimutakhirkan. (Ekie Keristiawan)